Suasana rapat koordinasi penataan kawasan eks lokalisasi Dolly di Pemkot Surabaya

16 September 2022 Berita Abdimas
koordinasi tentang penataan kawasan eks Lokalisasi Dolly.

               Surabaya-Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Surabaya (Ubaya) menghadiri undangan rapat koordinasi dari Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kota Surabaya terkait penataan kawasan eks lokalisasi Dolly. Rapat tersebut diadakan pada Kamis (15/09/2022) di Ruang Rapat Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Jalan Taman Surya Nomor 1 Surabaya. Pada kesempatan itu, dari LPPM Ubaya hadir Dr. Hazrul Iswadi sebagai Sekretaris LPPM Ubaya dan Tang Hamidy, A.Md., Manajer Administrasi Penelitian LPPM Ubaya. 
              Rapat koordinasi tersebut dipimpin oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kota Surabaya Irvan Widyanto, S.Sos., M.H., Camat Sawahan Drs. Sudono, M.Si., perwakilan dinas-dinas terkait antara lain dari Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Serta Pertanahan, Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Serta Pariwisata, Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Komunikasi dan Informatika, perwakilan dari perguruan tinggi yaitu Universitas Surabaya, Universitas Kristen Petra, dan Universitas Ciputra. Kemudian perwakilan dari bank seperti BPD Jawa Timur Kanwil Surabaya, Bank BNI Kanwil Surabaya, dan Bank BRI Kanwil Surabaya. 


Suasana rapat koordinasi penataan kawasan eks lokalisasi Dolly di Pemkot Surabaya

               Agenda rapat koordinasi adalah koordinasi tentang penataan kawasan eks Lokalisasi Dolly. Pada rapat koordinasi ini dibatasi fokus persoalannya pada Gang Dolly yang dikenal juga dengan Jalan Kupang Gunung Timur I.  
               Gang Dolly dulunya merupakan bagian utama kawasan lokalisasi yang terkenal di Surabaya. Bahkan pernah menyandang sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Saat Dr. (H.C.) Ir. Tri Rismaharini, M.T. menjadi Walikota Surabaya, Dolly ditutup dan sebagian wisma-wisma yang ada di Gang Dolly dibeli oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan sekarang menjadi aset Pemkot Surabaya. Seiring dengan keinginan dari Walikota Surabaya Eri Cahyadi, S.T., M.T. untuk menjadikan pariwisata sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi Surabaya pasca pandemi, maka kawasan Gang Dolly didorong untuk menjadi salah satu kawasan wisata di Surabaya. 
               “Wisata di Gang Dolly diangkat dengan cara memperlihatkan Romantisme Kejayaan Dolly di masa lalu yang dibungkus dengan tampilan yang kekinian berupa contemporary art seperti mural, pojok-pojok ruang berdesain kekinian, dan ruang-ruang kreatif. Penataan ini membutuhkan kolaborasi banyak pihak, antara lain dari pihak perguruan tinggi yang memiliki sumber daya manusia untuk melakukan penataan kawasan wisata. Pada tahap ini kami khusus mengundang tiga perguruan tinggi yaitu Ubaya, UK Petra, dan Universitas Ciputra,” demikian penjelasan Irvan terkait dengan konsep wisata yang akan diusung untuk Gang Dolly. 
               “Pada waktu Dolly ditutup, beberapa wisma yang ada di sana dibeli oleh Pemkot Surabaya dan sekarang menjadi aset Pemkot Surabaya. Aset Pemkot tersebut akan difungsikan untuk menjadi museum, studio, care center, pusat informasi, working space, dan beberapa spot-spot yang menunjang kegiatan wisata di tempat tersebut,” jelas Farah Andita Ramadhani, S.Hum. sebagai Kepala Bidang Pariwisata Disbudporapar Surabaya. Lebih lanjut Farah menjelaskan bahwa museum tersebut antara lain berisi timeline transformasi Dolly dari masa lalu ke masa kini. Juga ditampilkan beragam visual yang terjadi di Gang Dolly di masa lalu. 


Layout Dolly Care Center yang akan dibangun di Gang Dolly
(Sumber: presentasi Dibudporapar)

               “Di seputar Gang Dolly akan diciptakan beragam mural yang sebagian idenya berasal dari pemuda-pemuda yang ada di Gang Dolly sendiri, seperti ide mural yang terinspirasi pada salah satu wisma terkenal di Gang Dolly pada masa lalu yaitu Wisma Andromeda. Mural-mural tersebut akan bertebaran di setiap sudut dari Gang Dolly. Juga akan diangkat beragam potensi sejarah dan religi yang ternyata bertebaran di sepanjang dan sekitar Gang Dolly seperti adanya makam Mbah Saifuddin yang menjadi sesepuh di Gang Dolly,” papar Dr. Ir. RA Retno Hastijanti, MT.IPU sebagai salah seorang pakar cagar budaya dan sekaligus dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. 
               “Sesuai komitmen dari Rektor Ubaya yang menyatakan akan mendukung setiap program dari Pemkot Surabaya, termasuk program penataan di Gang Dolly ini. Dalam jangka pendek, program penataan ini dapat kami jadikan sebagai topik penelitian dan pengabdian internal di universitas kami. Sedangkan dalam jangka waktu panjang dapat kami jadikan sebagai topik-topik masalah untuk program-program hibah yang dapat dilakukan dengan pihak-pihak eksternal seperti matching fund,” terang Hazrul. 
               “Berkaca dari keberhasilan dalam membuka kembali wisata kuliner Kya-Kya beberapa waktu lalu, kami dari BRI merasa optimistis bahwa penataan Gang Dolly ini sangat prospek dan patut didukung. BRI siap membantu penataan dan bekerjasama dengan semua pihak yang terlibat,” ujar Erwin, salah satu perwakilan dari Bank BRI. 
               Sebagai tindak lanjut dari kegiatan adalah survei lokasi yang dilakukan oleh tiga universitas: Ubaya, UK Petra, dan Universitas Ciputra, terkait dengan potensi dan topik yang dapat diangkat di Gang Dolly untuk dijadikan topik penelitian ataupun topik pengabdian kepada masyarakat baik untuk dosen ataupun mahasiswa. (Hazrul Iswadi)