19 March 2020 Berita Penelitian
Wabah COVID-19 yang merebak di berbagai negara menimbulkan kerugian dalam berbagai bidang.

Wabah COVID-19 yang merebak di berbagai negara menimbulkan kerugian dalam berbagai bidang. Sampai saat tulisan ini dibuat, vaksin virus COVID-19 belum diperoleh. Yang bisa dilakukan oleh berbagai pemerintahan di semua belahan dunia adalah meminimalisir kerugian yang diakibatkan oleh wabah tersebut. Persoalannya adalah karakteristik penyebaran virus COVID-19 yang luar biasa cepatnya menimbulkan kesukaran berbagai pemerintahan di dunia untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk meminimalisir kerugian tersebut.

Salah satu usaha yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah mendapatkan prediksi penyebaran virus COVID-19 tersebut, terutama prediksi kapan puncak dan kapan saat penyebaran virus sudah memasuki fase berkurang. Usaha untuk memprediksi tersebut berkaca pada kondisi penyebaran virus yang terjadi di negeri Tiongkok, tempat virus COVID-19 pertama kali diidentifikasi penyebarannya.

Di Tiongkok, lebih tepatnya di Wuhan, berdasarkan data penyebaran virus COVID-19, pola penyebarannya membentuk pola kurva “lonceng”, yaitu kurva yang kita kenal dalam statistik sebagai kurva dari distribusi normal. Terdapat data penyebaran puncak dan terdapat data penyebaran virus menjadi turun drastis, simetri dengan naik drastis saat permulaan penyebaran. Dilaporkan di Wuhan bahwa data penduduk yang terjangkit virus tersebut sudah pada angka puluhan setiap hari. Beberapa rumah sakit darurat yang sengaja dibangun untuk menangani virus COVID-19 sudah ditutup.

Pola penyebaran yang sama terjadi di Korea Selatan, sebagai tempat penyebaran yang intens selain di Tiongkok. Tapi terjadi perbedaan yang besar menyangkut intervensi besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah Korea Selatan seperti penyemprotan disinfektan, tes drive-thru untuk pengecekan virus, dan memberlakukan kebijakan lockdown segera untuk daerah yang memiliki rawan penyebaran virus tersebut. Intervensi tersebut ternyata efektif untuk menekan penyebaran virus dan membuat penyebaran virus COVID-19 di Korea memiliki rentang waktu yang lebih singkat. Pada saat tulisan ini dibuat Presiden Korea Selatan mengklaim bahwa tingkat infeksi di Korea Selatan sudah pada fase menurun. Puncak infeksi virus COVID-19 di Korea adalah tanggal 29 Februari 2020 sebanyak 909 kasus, sedangkan pada tanggal 15 Maret 2020 dan 16 Maret 2020 tercatat berturut-turut 76 kasus dan 75 kasus.


Peneliti/Matematikawan Diaspora Indonesia yang sekarang menjadi Profesor di Universitas of Essex Inggris Prof. Hadi Susanto berusaha untuk membuat model matematika dan membandingkan dengan data riil di Indonesia, beliau memperoleh kurva kecocokan sebagai berikut.

Dengan menggunakan model prediksi yang sama, Prof. Hadi Susanto memprediksi puncak dari penyebaran virus COVID-19 di Indonesia adalah sekitar 50 hari dari awal penyebaran pada tanggal 2 Maret 2020, sehingga diperkirakan puncak penyebaran virus COVID-19 adalah sekitar tanggal 20 April 2020. Beliau menyebut bahwa model yang dibuat adalah versi pesimis terkait dengan kesadaran dan kebijakan intervensi yang dibutuhkan untuk menghambat penyebaran virus COVID-19. Berikut adalah kurva prediksi penyebaran virus COVID-19 berdasarkan model prediksi dari Prof. Hadi Susanto.

Dari model matematika yang dikembangkan yang masih minimal memasukkan intervensi, maka dapat diperkirakan kalau asumsi intervensi lebih maksimal akan membuat puncak penyebaran virus akan semakin cepat dan penyebaran virus akan cepat selesai, sehingga kita harus mendukung kebijakan Rektor Ubaya untuk me-lockdown Ubaya, menerapkan work from home dengan disiplin, dan melakukan upaya social distancing yang kontinu sampai wabah virus COVID-19 ini mereda. (HI)