22 May 2020 Berita Penelitian
Daun kelor memiliki kandungan antioksidan yang sangat tinggi.

Saat ini dunia sedang diguncang oleh wabah pandemik virus korona COVID-19 yang hingga saat ini belum ditemukan penyelesaiannya. Wabah ini tidak hanya mengakibatkan peningkatan korban dan pasien yang dinyatakan positif dari hari ke hari, namun juga berimbas ke segala sektor mulai dari ekonomi berbagai negara yang mengalami penurunan, banyak perusahaan yang gulung tikar, pariwisata yang terhenti hingga kegiatan pendidikan dan ibadah yang harus dilaksanakan melalui jarak jauh.

Pasien yang terpapar COVID-19 menunjukkan gejala yang berbeda tergantung pada sistem kekebalan setiap orang. Peningkatan imunitas tubuh sangat penting dalam upaya melawan virus COVID-19 sehingga mengurangi gejala dan resiko yang ditimbulkan. Pohon kelor yang disebut sebagai “miracle tree” ini memiliki lebih dari 90 jenis nutrisi berupa vitamin esensial, mineral, asam amino, antipenuaan, dan antiinflamasi, serta mengandung 539 senyawa yang dikenal dalam pengobatan tradisional Afrika dan India yang mampu mencegah lebih dari 300 penyakit (Shintia et al., 2014). Di sebagian kalangan masyarakat di Jawa, tanaman kelor dipercaya memiliki kekuatan magis yang mampu menangkal sihir, ajimat, guna-guna, dan ilmu hitam. Telah cukup banyak hasil penelitian yang menyatakan bahwa daun kelor memiliki kandungan  antioksidan yang sangat tinggi, kandungan vitamin A dan C yang tinggi, serta protein yang tinggi sehingga daun kelor dapat pula dimanfaatkan untuk mengatasi gejala malnutrisi dan stunting serta untuk pemenuhan gizi dan nutrisi yang seimbang.

Secara natural, tubuh dapat menghasilkan antioksidan untuk melawan radikal bebas penyebab kerusakan sistem imun tubuh. Tetapi peningkatan radikal bebas yang masuk tidak sebanding dengan antioksidan yang dihasilkan tubuh, sehingga diperlukan antioksidan tambahan untuk melawan radikal bebas dan meminimalisir efek negatif pada sel tubuh kita.  Antioksidan merupakan senyawa pemberi elektron yang mendonorkan satu elektronnya kepada senyawa yang bersifat radikal bebas sehingga dapat mencegah oksidasi sel dan menghambat aktivitas radikal bebas.

Selain dapat mencegah kerusakan sel, antioksidan juga berperan untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh, Rutin mengkonsumsi ekstrak daun kelor sebagai salah satu sumber antioksidan diharapkan mampu meningkatkan imunitas tubuh sehingga tubuh dapat memerangi infeksi baik yang disebabkan oleh bakteri maupun virus. Bagi pasien yang sudah positif pun, asupan antioksidan juga dapat membantu meringankan gejala dan mempercepat pemulihan. Tanaman kelor dapat tumbuh dengan cepat dan tingginya dapat mencapai hingga 12 meter apabila dibiarkan terus tumbuh. Daun kelor dapat dipetik secara berkala dan dapat dikeringkan untuk memperpanjang masa simpan. Bagaimana teknik pengeringan yang baik tanpa mereduksi aktivitas antioksidan daun kelor? Apakah ekstraksi dengan air telah sudah cukup efektif untuk pengambilan senyawa antioksidan dibandingkan pelarut organik seperti alkohol? Kedua pertanyaan ini merupakan pertanyaan mendasar yang seringkali ditanyakan oleh masyarakat awam, namun belum banyak penelitian yang dilakukan. Sampai saat ini, preparasi sampel pada daun kelor sebagian besar dilakukan dengan cara kering angin dengan menggunakan pelarut etanol (Martiningsih et al., 2015 ; Putra et al., 2016). Hal ini yang mendorong Dr.rer.nat. Lanny Sapei, S.T., M.Sc. untuk melakukan penelitian tsb melalui kolaborasi dengan Dr.rer.nat. Ignasius Radix AP Jati, S.TP., MP. Penelitian dilakukan di Laboratorium Polimer dan Membran, program studi Teknik Kimia UBAYA yang dibantu oleh 2 orang mahasiswa Teknik Kimia yaitu Chandya Liman dan Yosef Fernando Santosa, serta laboran Dyah Ayu Ambarsari, S.T. Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan wawasan kepada masyarakat awam bagaimana proses pengeringan dan ekstraksi daun kelor dapat mempengaruhi kandungan antioksidan.